Hampir setiap hari Rabu pada siang hari saat terik matahari
mulai menyinari, saya selalu melewati jalan trotoar seorang diri dan selalu
melihat bapak tua yang usia nya sekitar 40 tahunan, Hingga kini beliau berprofesi sebagai pemulung, ia menjalani profesi ini sudah 12 tahun, pekerjaan ini ia lakoni demi menghidupi istri dan ke empat anak nya. Beliau memungut sampah menggunakan
pengait besi andalan nya yang selalu ia bawa sebagai alat pencari nafkah.
Melihat kenyataan miris di depan mata ada rasa iba di hati ini, dan
berandai-andai, jika saja orang tua saya atau keluarga saya yang mengalami
keadaan seperti bapak tsb mungkinkah saya masih bisa melanjutkan sekolah
seperti sekarang ini ? Namun alhamdulillah Allah masih memberikan nikmat yang
lebih melalui orang tua yang selalu memberikan nafkah kepada saya dan hidup
dengan berkecukupan.
Tidak lupa jika saya melewati jalan, saya memberikan dua potong roti untuk bapak tsb, setiap pagi jikalau ingin pergi ke
kampus saya selalu meniatkan untuk membeli roti di warung terlebih dahulu untuk diberikan
kepada bapak tsb. Beliau berterima kasih dan mengucap syukur lalu tersenyum
setelah menerima roti pemberian dari saya. Dengan ditunjukkan kenyataan yang
selalu saya lihat dengan mata berkaca-kaca setiap hari Rabu membuka mata saya dan Insya
Allah akan membuka mata hati kita semua agar senantiasa tak henti-henti nya
terus menerus bersyukur dengan apapun keadaan yang kita alami sekarang, baik
buruk, ringan berat, mudah susah teruslah mengucap syukur. Seperti disebutkan
di firman Allah SWT dalam surat Luqman (31:12) yang berbunyi "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".


No comments:
Post a Comment