Monday, 11 June 2018

Pendidikan Berkarakter Dalam Pembangunan Indonesia


Sejak dulu hingga hampir 73 tahun Indonesia merdeka, negara kita tercinta ini masih berada di posisi kategori negara berkembang. Mengapa masih demikian seakan tidak menunjukan perubahan yang signifikan setiap tahun nya ? Karena faktanya masih banyak sekali ditemukan krisis moral dan minimnya karakter setiap individu maupun kelompok itu sendiri. Hal itulah yang membuat negara Indonesia menjadi sulit bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
Seperti yang kita ketahui banyak sekali kita temukan beragam karakter negatif pada anak bangsa ini. Faktor pemicu nya pun bermacam-macam, seperti, kurangnya pengawasan orang tua, lemah nya mental dan iman, salah dalam memilih pergaulan yang sehat hingga mudahnya akses teknologi yang dapat merusak moral. Dari faktor tersebut timbul lah dampak dari karakter negatif mulai dari mencontek pelajaran di sekolah, bolos sekolah, menjadi siswa pembangkang, tukang membuat onar, suka, tawuran, narkoba, berjudi, minum-minuman keras bahkan yang lebih parah nya lagi sampai melakukan hubungan seks bebas dibawah umur.
Sungguh miris melihat realita karakter yang dimiliki anak zaman sekarang. Maka dari itu kita sebagai orang tua, guru, masyarakat dan pihak pemerintah harus  bekerja sama dalam membimbing dan menanamkan pendidikan karakter dan berbudi luhur di setiap sekolah dan perguruan tinggi guna membangun bangsa Indonesia yang lebih maju sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkarakter.
            Selama manusia masih hidup di bumi pendidikan tidak akan pernah lepas dari yang namanya melakukan kegiatan belajar mengajar. Tidak hanya belajar ilmu pengetahuan akademis saja, namun ilmu jiwa dan ilmu spiritual harus kita pelajari lebih dalam dan tanamkan kepada jiwa kita guna menyeimbangkan kehidupan pribadi serta  dapat memberikan dampak positif kepada orang banyak.
            Menurut penulis pendidikan itu sendiri terbagi dalam 3 aspek, yaitu, aspek pendidikan intelejensi, aspek pendidikan emosional dan aspek pendidikan spiritual. Ketiga aspek tersebut haruslah terisi penuh di dalam otak dan hati kita, tidak bisa hanya diisi salah satu atau diisi salah dua saja. Jika terjadi demikian maka kehidupan akan menjadi timpang dan tidak selaras, maka akan berdampak pada diri sendiri serta merugikan orang banyak. Dari permasalahan ini kita banyak mengambil manfaat serta pelajaran bahwa jika pendidikan karakter di Indonesia harus sesegera mungkin ditanamkan kepada para pengajar maupun pemangku jabatan dalam mengambil peran agar karakter baik yang dicurahkan dapat ditiru dan diimplementasikan kepada kehidupan pribadi maupun sosial sang anak.
Tujuan dari penulisan essay ini sendiri tidak lepas dari polemik pendidikan yang sampai saat ini belum adanya titik terang dalam pemecahan masalah pendidikan karakter untuk anak Indonesia. Maka dari itu sesuai dengan latar belakang masalah yang ada, penulis menghimbau kepada para pemerintah, guru, orang tua dan masyarakat untuk bersama-bersama memberikan pendidikan karakter di bidang formal maupun bidang non formal kepada anak Indonesia yang bertujuan membentuk karakter anak Indonesia yang bernilai humanis sesuai dengan nilai pancasila yang diharapkan dapat membangun Indonesia di masa depan.
Penggerak kemajuan suatu bangsa itu sendiri adalah pendidikan yang bekarakter yang sesuai dengan nilai pancasila, antara lain, karakter beriman, bertaqwa, berilmu, cerdas, mandiri, santun, disiplin, jujur, peduli dan kreatif. Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah haruslah sadar dan peka melihat betapa bobroknya karakter anak bangsa dalam pendidikan di Indonesia di masa sekarang, jika sudah begini, pemerintah sebagai pihak berwenang haruslah menyusun target dan rencana yang matang sebagai bentuk revolusi dan kontribusi dalam membangun Indonesia maju khusus nya dalam bidang pendidikan Indonesia agar dapat menyusul dan menyamai kedudukan dengan negara Maju lainnya.
            Menerapkan pendidikan yang mendepankan karakter berkahlak mulia harus dimulai dengan lingkungan yang sehat mulai dari lingkungan keluarga, teman dan masyarakat. Hal itu sangatlah berperan penting dalam membentuk pendidikan berkarakter untuk pembangunan Indonesia kedepan. Namun yang paling berperan besar dalam membangun generasi berkarakter yaitu kedua orang tua. Karena orang tua lah pondasi pertama mereka dalam pembentukan karakter sejak dini, dengan didikan orang tua inilah dimana sang anak bertumbuh menjadi pribadi baik maupun pribadi yang kurang baik.
            Setelah orang tua, peran guru di sekolah tidaklah kalah penting dalam mendidik calon generasi yang berkarakter. Akan sangat lebih baik jika jika mengalokasikan waktu satu jam saja setiap hari nya untuk diisi dengan konseling yang diselingi dengan kegiatan yang ramah lingkungan, seperti bermain peran dengan sang anak, belajar menabung, hipnoterapi, bermain flash card,  serta kegiatan yang dapat memacu sisi emosional anak. Tidak lupa juga setiap minggu pada hari jumat diisi dengan kegiatan spiritual, seperti, membaca yasin bersama, mengaji, mendengarkan ceramah, dan ruqyah. Jika kurikulum pendidikan di Indonesia diubah sedikit saja demi menghasilkan pendidikan berkarakter, maka tujuan utama bangsa Indonesia dalam membangun Indonesia yang berkarakter akan terwujud.
            Dalam mendidik karakter anak bangsa yang sesuai dengan nilai pancasila, orang tua sangat memegang peranan penting dalam membentuk karakter yang positif. Namun dalam pemaparan masalah ini yang disebut dengan orang tua, bukan hanya orang tua biologis saja, akan tetapi orang tua yang dalam artian luas, yakni orang yang dituakan yang senantiasa berada di sekeliling anak. Tugas orang tua inilah yang yang wajib membimbing, mengawasi, menasehati serta memberikan pengarahan yang kepada sang anak. Jadi tidak serta merta orang tua biologis saja yang memberikan pendidikan melalui didikan yang positif, tetapi orang sekitar yang jauh lebih tua dari mereka berhak ikut andil dalam memberikan pendidikan karakter.
            Dalam hal ini banyak peneliti yang sudah mengangkat masalah ini ke dalam bentuk penelitian antara lain, adalah, Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga Negara yang baik. Adapun kriteria manusia manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Menurut Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional,logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku). Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
            Kita semua warga negara Indonesia berhak dan berkesempatan menjadi pemimpin di bangsa Indonesia yang tercinta ini. Selama karakter humanis terpatri dalam jiwa dan tingkah laku kita, cita-cita besar bangsa ini dalam keberlangsungan membangun Indonesia maju akan benar-benar terwujud melalui karakter bangsa yang bersifat humanis dan nasionalis.
Ditambah lagi dengan adanya fasilitas pendidikan yang mumpuni akan menjadi nilai tambah untuk mengembangkan karakter yang lebih baik. Mengingat banyaknya sekolah-sekolah di daerah terpencil yang belum dibangun dan difasilitasi secara merata, bahkan buku yang dikenal sebagai gudang ilmu sedikit pun tidak mereka miliki. Hal inilah yang harusnya menjadi perhatian masyarakat sekitar serta pemerintah yang harus nya dari dulu sadar dan peka dalam menindaklanjuti masalah ini. Bagaimana bangsa Indonesia akan maju dalam membangun bangsa, jika pemangku jabatan nya sendiri pun seakan mendadak mendapatkan penyakit tunarungu maupun tunanetra. Fakta yang terjadi di lapangan baru-baru ini ialah kasus korupsi dana pendidikan yang objek nya berupa, sarana dan prasana sekolah, dana bantuan operasiona sekolah (BOS) hingga infrastruktur sekolah serta dana buku yang jumlah nya sebesar 424,7 triliun (Sumber : Ade Irawan, Tribun News). Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa karkater buruk dari seorang pemangku jabatan tidak mencerminkan karakter yang bermoral dan berakhlak. Maka dari itu karakter baik itu sendiri harus kita tanamkan terlebih dahulu kepada diri kita, jika sudah didasari dari diri otomatis karkater buruk tersebut akan mati dan tidak berkembang sehingga akan terambil dari sisi positif nya saja.
Jadi kesimpulan nya jika kita akan membangun bangsa ini. Mulailah tanamkan kebaikan dan tunjukkan karakter positif yang ada di dalam diri kalian. Karena sejati nya manusia telahir dengan hati yang suci dan pikiran yang jernih. Namun saat kita tumbuh dewasa, hati dan pikiran kita tidak lah lagi suci dan bersih seperti bayi yang baru lahir. Untuk dapat membersihkan kembali hati dan pikiran itu ada banyak cara seperti, meditasi, zikir, berbuat baik, menolong sesama, jauh dari korupsi dan karakter positif lainnya. Karakter positif yang dibarengi dengan intelejensi yang tinggi serta spiritual yang kokoh akan menjadi pondasi yang kuat untuk mebangun bangsa Indonesia ini dan menjadikan negara kita yang dapat bersaing secara global. Diyakini jika kita memiliki semua karakter  positif, kita sebagai anak bangsa dapat bahu membahu bekerja sama dan berinteraksi satu sama lain membangun negeri ini yang dipimpin oleh pemimpin yang berkarakter dan takut akan Tuhan.

No comments:

Post a Comment