Sejak dulu hingga hampir 73 tahun Indonesia merdeka, negara kita
tercinta ini masih berada di posisi kategori negara berkembang. Mengapa masih
demikian seakan tidak menunjukan perubahan yang signifikan setiap tahun nya ?
Karena faktanya masih banyak sekali ditemukan krisis moral
dan minimnya karakter setiap individu maupun kelompok itu sendiri. Hal itulah
yang membuat negara Indonesia menjadi sulit bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
Seperti yang kita ketahui banyak sekali kita
temukan beragam karakter negatif pada anak bangsa ini. Faktor pemicu nya pun
bermacam-macam, seperti, kurangnya pengawasan orang tua, lemah nya mental dan
iman, salah dalam memilih pergaulan yang sehat hingga mudahnya akses teknologi
yang dapat merusak moral. Dari faktor tersebut timbul lah dampak dari karakter negatif mulai dari
mencontek pelajaran di sekolah, bolos sekolah, menjadi siswa pembangkang,
tukang membuat onar, suka, tawuran, narkoba, berjudi, minum-minuman keras
bahkan yang lebih parah nya lagi sampai melakukan hubungan seks bebas dibawah
umur.
Sungguh miris melihat realita karakter yang
dimiliki anak zaman sekarang. Maka dari itu kita sebagai orang tua, guru, masyarakat
dan pihak pemerintah harus bekerja sama dalam
membimbing dan menanamkan pendidikan karakter dan berbudi luhur di setiap
sekolah dan perguruan tinggi guna membangun bangsa Indonesia yang lebih maju sehingga menghasilkan
sumber daya manusia yang berkarakter.
Selama
manusia masih hidup di bumi pendidikan tidak akan pernah lepas dari yang
namanya melakukan kegiatan belajar mengajar. Tidak hanya belajar ilmu
pengetahuan akademis saja, namun ilmu jiwa dan ilmu spiritual harus kita
pelajari lebih dalam dan tanamkan kepada jiwa kita guna menyeimbangkan
kehidupan pribadi serta dapat memberikan
dampak positif kepada orang banyak.
Menurut
penulis pendidikan itu sendiri terbagi dalam 3 aspek, yaitu, aspek pendidikan intelejensi, aspek pendidikan emosional dan aspek
pendidikan spiritual. Ketiga aspek tersebut haruslah terisi penuh di dalam otak
dan hati kita, tidak bisa hanya diisi salah satu atau diisi salah dua saja. Jika terjadi demikian maka kehidupan akan
menjadi timpang dan tidak selaras, maka akan berdampak pada diri sendiri serta
merugikan orang banyak. Dari permasalahan ini kita banyak mengambil manfaat
serta pelajaran bahwa jika pendidikan karakter di Indonesia harus sesegera mungkin ditanamkan kepada para
pengajar maupun pemangku jabatan dalam mengambil peran agar karakter baik yang
dicurahkan dapat ditiru dan diimplementasikan kepada kehidupan pribadi maupun
sosial sang anak.
Tujuan dari penulisan essay ini sendiri tidak
lepas dari polemik pendidikan yang sampai saat ini belum adanya titik terang
dalam pemecahan masalah pendidikan karakter untuk anak Indonesia. Maka dari itu
sesuai dengan latar belakang masalah yang ada, penulis menghimbau kepada para
pemerintah, guru, orang tua dan masyarakat untuk bersama-bersama memberikan pendidikan karakter di bidang formal
maupun bidang non formal kepada anak Indonesia yang bertujuan membentuk
karakter anak Indonesia yang bernilai humanis sesuai dengan nilai pancasila yang
diharapkan dapat membangun Indonesia di masa depan.
Penggerak kemajuan suatu bangsa itu sendiri
adalah pendidikan yang bekarakter yang sesuai dengan nilai pancasila, antara
lain, karakter beriman, bertaqwa, berilmu, cerdas, mandiri,
santun, disiplin, jujur, peduli dan kreatif. Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah
haruslah sadar dan peka melihat betapa bobroknya karakter anak bangsa dalam
pendidikan di Indonesia di masa sekarang, jika sudah begini, pemerintah sebagai pihak berwenang
haruslah menyusun target dan rencana yang matang sebagai bentuk revolusi dan
kontribusi dalam membangun Indonesia maju khusus nya dalam bidang pendidikan
Indonesia agar dapat menyusul dan menyamai kedudukan dengan negara Maju lainnya.
Menerapkan
pendidikan yang mendepankan karakter berkahlak mulia harus dimulai dengan
lingkungan yang sehat mulai dari lingkungan keluarga, teman dan masyarakat. Hal
itu sangatlah berperan penting dalam membentuk pendidikan berkarakter untuk pembangunan
Indonesia kedepan. Namun yang paling berperan besar dalam membangun generasi
berkarakter yaitu kedua orang tua. Karena orang tua lah pondasi pertama mereka
dalam pembentukan karakter sejak dini, dengan didikan orang tua inilah dimana sang
anak bertumbuh menjadi pribadi baik maupun pribadi yang kurang baik.
Setelah
orang tua, peran guru di sekolah tidaklah kalah penting dalam mendidik calon
generasi yang berkarakter. Akan sangat lebih baik jika jika mengalokasikan
waktu satu jam saja setiap hari nya untuk diisi dengan konseling yang diselingi
dengan kegiatan yang ramah lingkungan, seperti bermain peran dengan sang anak,
belajar menabung, hipnoterapi, bermain flash card, serta kegiatan yang dapat memacu sisi
emosional anak. Tidak lupa juga setiap minggu pada hari jumat diisi dengan
kegiatan spiritual, seperti, membaca yasin bersama, mengaji, mendengarkan
ceramah, dan ruqyah. Jika kurikulum pendidikan di Indonesia diubah sedikit saja
demi menghasilkan pendidikan berkarakter, maka tujuan utama bangsa Indonesia dalam
membangun Indonesia yang berkarakter akan terwujud.
Dalam
mendidik karakter anak bangsa yang sesuai dengan nilai pancasila, orang tua
sangat memegang peranan penting dalam membentuk karakter yang positif. Namun dalam
pemaparan masalah ini yang disebut dengan orang tua, bukan hanya orang tua
biologis saja, akan tetapi orang tua yang dalam artian luas, yakni orang yang
dituakan yang senantiasa berada di sekeliling anak. Tugas orang tua inilah yang
yang wajib membimbing, mengawasi, menasehati serta memberikan pengarahan yang
kepada sang anak. Jadi tidak serta merta orang tua biologis saja yang
memberikan pendidikan melalui didikan yang positif, tetapi orang sekitar yang
jauh lebih tua dari mereka berhak ikut andil dalam memberikan pendidikan
karakter.
Dalam hal ini banyak peneliti yang
sudah mengangkat masalah ini ke dalam bentuk penelitian antara lain, adalah, Menurut
T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi
anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga Negara yang
baik. Adapun kriteria manusia manusia yang baik, warga masyarakat yang baik,
dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum
adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya
masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter
dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan
nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam
rangka membina kepribadian generasi muda. Menurut Musfiroh (UNY, 2008),
karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors),
motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa
Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana
mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku,
sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya
dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai
dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Karakter mulia berarti
individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai
seperti reflektif, percaya diri, rasional,logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif,
mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela
berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati,
malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih,
teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner,
bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif,
pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah,
terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik
atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya
tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu
(intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku). Individu yang
berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal
yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara
serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi
(pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya
(perasaannya).
Kita semua warga negara Indonesia
berhak dan berkesempatan menjadi pemimpin di bangsa Indonesia yang tercinta
ini. Selama karakter humanis terpatri dalam jiwa dan tingkah laku kita,
cita-cita besar bangsa ini dalam keberlangsungan membangun Indonesia maju akan
benar-benar terwujud melalui karakter bangsa yang bersifat humanis dan
nasionalis.
Ditambah lagi dengan adanya fasilitas pendidikan yang mumpuni akan
menjadi nilai tambah untuk mengembangkan karakter yang lebih baik. Mengingat
banyaknya sekolah-sekolah di daerah terpencil yang belum dibangun dan
difasilitasi secara merata, bahkan buku yang dikenal sebagai gudang ilmu
sedikit pun tidak mereka miliki. Hal inilah yang harusnya menjadi perhatian
masyarakat sekitar serta pemerintah yang harus nya dari dulu sadar dan peka
dalam menindaklanjuti masalah ini. Bagaimana bangsa Indonesia akan maju dalam
membangun bangsa, jika pemangku jabatan nya sendiri pun seakan mendadak
mendapatkan penyakit tunarungu maupun tunanetra. Fakta yang terjadi di lapangan
baru-baru ini ialah kasus korupsi dana pendidikan yang objek nya berupa, sarana
dan prasana sekolah, dana bantuan operasiona sekolah (BOS) hingga infrastruktur
sekolah serta dana buku yang jumlah nya sebesar 424,7 triliun (Sumber : Ade
Irawan, Tribun News). Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa karkater buruk dari
seorang pemangku jabatan tidak mencerminkan karakter yang bermoral dan
berakhlak. Maka dari itu karakter baik itu sendiri harus kita tanamkan terlebih
dahulu kepada diri kita, jika sudah didasari dari diri otomatis karkater buruk
tersebut akan mati dan tidak berkembang sehingga akan terambil dari sisi
positif nya saja.
Jadi kesimpulan nya jika kita akan membangun bangsa ini. Mulailah tanamkan kebaikan dan tunjukkan karakter positif yang ada di dalam diri kalian. Karena sejati nya
manusia telahir dengan hati yang suci dan pikiran yang jernih. Namun saat kita
tumbuh dewasa, hati dan pikiran kita tidak lah lagi suci dan bersih seperti
bayi yang baru lahir. Untuk dapat membersihkan kembali hati dan pikiran itu ada banyak cara seperti,
meditasi, zikir, berbuat baik, menolong sesama, jauh dari korupsi dan karakter
positif lainnya. Karakter positif yang dibarengi dengan intelejensi yang tinggi
serta spiritual yang kokoh akan menjadi pondasi yang kuat untuk mebangun bangsa
Indonesia ini dan menjadikan negara kita yang dapat bersaing secara global.
Diyakini jika kita memiliki semua karakter positif, kita sebagai anak bangsa dapat bahu membahu bekerja sama dan berinteraksi satu sama
lain membangun negeri ini yang dipimpin oleh pemimpin yang berkarakter dan
takut akan Tuhan.
No comments:
Post a Comment