Untuk kamu yang wujud nya belum ku ketahui. Untuk kamu calon ayah dari anak-anak ku nanti
Hai siapapun kamu disana, beberapa hari lagi usia ku akan
menginjak ke angka 26. Usia yang tidak muda lagi, usia yang sudah melewati
seperempat abad, usia yang memang semestinya sudah mengucap akad. Ku harap aku
akan bersanding dengan mu yang usianya terpaut jarak sedikit lebih tua 1 hingga
3 tahun lebih diatasku. Ah tapi itu tidaklah penting, berapapun usia mu selagi
tidak lebih muda dari ku, segalanya akan baik-baik saja.
Oh iya di catatan kecil kali ini, aku mau berbagi sedikit cerita mengenai kisah romansa ku yang singkat yang diakhiri dengan patah hati berkepanjangan. Saat ini aku sedang sendiri dan tidak sedang menjalani hubungan dengan siapapun. Sebelum kini aku bertemu dengan mu, bolehkah aku bercerita tentang romansa ku sebelum bertemu dengan mu? Sudah terhitung 1 tahun 9 bulan berjalan sejak Januari 2018 hingga kini memasuki akhir Oktober 2019 yang sudah hampir habis, keadaan ku bisa dikatakan tidak cukup baik-baik saja, semuanya terasa menyebalkan, menjengkelkan, dan semuanya terasa sensitif bagi ku. Seolah tak kuat menerima keadaan ini, aku terlalu bodoh mempercayai begitu saja akan cinta mu yang nyata nya aku hanya untuk mengisi kekosongan waktu mu saja pada saat itu. Dia hanya singgah sekejap saja tanpa menjadikan ku rumah sebagai tujuan perjalanan cintanya. Begitu seringnya hati ini dipatahkan oleh beberapa lelaki, serta selalu dikecewakan dengan alasan yang sama, hal itu membuatku seakan hampir tak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Yang begitu membuatku sedih, seolah aku tak layak dan tak berhak dicintai dengan tulus oleh siapapun. Bagaimana tidak? Aku tak pernah dijadikan satu-satunya bahkan selamanya oleh mereka, padahal yang ku butuhkan hanya itu, tak lebih.
Namun tak mengapa aku menganggapnya ini bagian dari perjalanan hidup yang akan terus ku tempuh hingga menjadikan ku sosok yang dewasa dan tegar dalam mengarungi perjalanan hidup kedepan. Dan kini aku telah memaklumi itu semua dengan membesarkan hati atas pilihan hidup mereka.
Namun kini aku sadar, perlahan waktu telah menyembuhkan ku dari luka, trauma, sakit melalui kejadian pahit, dan ternyata begitulah cara Tuhan untuk memisahkan apa yang memang bukan menjadi sebuah takdir. Semua amarah, kecewa, dan kesal yang dulu sempat merongrong jiwa ku, sudah aku ikhlaskan sepenuhnya dan sudah mulai berdamai dengan masa lalu. Kejadian itu semua aku menyebutnya sebagai sebuah perjalanan. Mungkin untuk menuju mu, aku harus lebih dulu bertemu mereka untuk mengajarkanku bahwa tujuan sesungguhnya tidak didapat dengan begitu instan. Tak perlu khawatir dengan masa depan kita nanti, kamu tidak perlu cemburu berlebih dengan siapapun nantinya, karena aku berbakat dalam mencintai satu orang saja. Tidak perlu mengecek ponsel ku setiap waktu, karena kamu hanya akan mendapatkan kolom chat ku hanya berisi grup alumni, grup keluarga, grup bisnis, obrolan sahabat karib, orangtua, saudara, dan pastinya kolom chat kamu akan ku sematkan pada urutan paling atas. Tak cuma itu, aku juga pandai mengabaikan pesan dari pria asing, karena memang saat ini aku sering melakukannya.
Oh iya ngomongin soal memasak, jujur saat ini aku belum
terlalu mahir dalam urusan dapur, namun tenang saja, saat ini aku sudah mulai
melihat-lihat dan membaca resep dari tabloid maupun internet dan sesekali
mempraktekkannya sendiri dirumah.
Jika kelak buah hati kita tumbuh, kamu harus rajin ke toko
buku untuk membelikan ensiklopedia tentang apa saja, serta kita harus saling
mengisi dan berinteraksi dengan buah hati kita nanti demi melatih tumbuh
kembangnya.
Ah, membayangkannya saja sudah membuatku sungguh teramat bahagia.
Sesungguhnya masih banyak yang ingin ku curahkan pada setiap penggalan kisah ini, tapi mungkin nanti saja kusampaikan saat raga dan jiwa kita telah tertaut sambil menikmati secawan kopi yang disaksikan oleh jingganya guratan senja. Tapi tenang saja, seindah-indahnya senja tetap kamu yang mampu mencuri hatiku.
Ah, membayangkannya saja sudah membuatku sungguh teramat bahagia.
Sesungguhnya masih banyak yang ingin ku curahkan pada setiap penggalan kisah ini, tapi mungkin nanti saja kusampaikan saat raga dan jiwa kita telah tertaut sambil menikmati secawan kopi yang disaksikan oleh jingganya guratan senja. Tapi tenang saja, seindah-indahnya senja tetap kamu yang mampu mencuri hatiku.
Meski rupa mu masih berwujud doa, aku bahkan sudah mencintai mu sedalam itu.

No comments:
Post a Comment