Jika menjadi calon istri harus pandai memasak dan mengurus rumah dengan baik, tentu saya jauh dalam golongan itu. Jika menjadi calon istri harus ramah tamah dan pandai meredam emosi tentu saya tidak pernah akan digandrungi pada lelaki manapun. Jika menjadi calon istri harus berparas cantik jelita dan bertubuh seksi bak gitar spanyol tentu saya tidak akan pernah diperhitungkan. Bayangan untuk menjadi istri yang mendekati sempurna pun belum bisa saya definisikan di usia yang seharusnya sudah lebih dari matang. Usia 26 tahun, iya 26 tahun. Saya masih kekanakan, baik dari segi emosi maupun tingkah laku. Saya masih suka males beberesan dan suka geletakin barang sembarangan, cenderung egois dan tidak suka mengalah dengan orang yang usianya lebih muda jauh dibawah saya. Saya bukan wanita anggun, sempurna, kemayu, elegan atau apalah itu yang mungkin dimiliki oleh wanita dewasa pada umumnya. Saya hanya seorang wanita 26 tahun yang mungkin pertumbuhan mentalnya tidak sama seperti wanita dewasa lainnya yang sudah bisa bertanggung jawab pada diri sendiri maupun orang sekitar. Seorang wanita yang emosinya tidak stabil dan sering berubah dalam hitungan menit, seorang wanita yang tak segan memasang wajah cemberut nya jika keinginan nya tidak terpenuhi. Saya sadar semua itu sudah habis masanya. Saya bukan lagi seorang gadis yang berkepang dua yang sedikit-sedikit galau dan menangis jika ada hal yang tidak sesuai keinginan. Saya sudah harus berproses berubah pelan-pelan menjadi wanita dewasa seutuhnya. Apa saya terlambat? Tentu tidak, tidak ada kata terlambat untuk berproses menuju perubahan yang lebih baik. Saya sadar kelak saya akan menjadi seorang istri yang harus menyiapkan segala keperluan suami dari mulai berangkat kerja hingga pulang kerumah dengan disambut satu pelukan hangat, menyuguhkan nya segelas kopi dan memberi nya pijatan ringan manja dibelakang pundak leher.
Saya sadar kelak saya akan menjadi seorang mama untuk anak-anak yang nantinya akan membutuhkan kehadiran saya 24 jam. Saya mau dan pasti bisa menjadi seorang istri dan mama yang diidamkan dan dibanggakan setidaknya untuk keluarga kecil saya kelak. Saya hanya butuh seorang yang sabar menghadapi dan menemani saya berproses menjadi lebih baik. Saya janji akan menyiapkan makanan yang saya masak sendiri berbekal resep dari internet, yang akan selalu memberikan kucuran semangat dan sentuhan lembut kasih sayang, dan tak lupa pula akan selalu berdiskusi mencari jalan tengah perihal perbedaan pendapat yang dijelaskan dengan bahasa halus, "ngga gitu sayang, sini aku jelasin". Yang akan selalu mengucapkan afirmasi positif, "mama sayang papa, papa pahlawan keluarga, papa segalanya dan satu-satunya yang kami hargai dan cintai".
Ketika anak saya mulai tumbuh, saya juga akan mengajari anak-anak berhitung dan berbahasa, mengajari anak-anak sholat dan mengaji, mendongengkan cerita setiap malam sebelum tidur, mengajaknya bermain, bahkan menyanyi, meski suara saya jauh dari kata merdu. Tapi saya pastikan anak-anak tidak akan tumbuh besar sendiri tanpa kehadiran saya. Saya harus ada ketika mereka mempunyai segudang pertanyaan tentang dunia, ketika mereka bertanya tentang isi buku yang baru saja dibelinya. Saya harus menjadi orang pertama yang dicari sama anak-anak ketika dia mengalami hari terberatnya, dan ketika dia lagi kasmaran berbunga-bunga. Saya akan selalu menyempatkan waktu mengajak mereka diskusi bersama dan mencoba hal-hal baru. Semoga kelak saya menjadi orangtua yang bersahabat, penuh cinta, kasih sayang, bijaksana, demokratis dan sebisa mungkin saya mau menjadi alasan mereka selalu merindukan rumah ketika mereka berada diluar.

No comments:
Post a Comment